Thursday, 14 February 2013

Menangis



“Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, nescaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Bukhari dan Muslim)

Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah swt.




Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain

Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi. Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.

Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung

Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain. Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan.

Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperti itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah swt. Seperti itulah Allah nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

Menyadari bahwa syurga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit

Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah swt. akan memasukkan kita kedalam syurga. Fikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk syurga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahawa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk syurga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.
 
Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih syurga.
 
Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Al-baqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Menyadari bahwa azab Allah teramat pedih

Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: syurga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.
 
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya. Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan.

“Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita.

Sunday, 10 February 2013

bermakna






HAri ini aku terbaca satu entry yang sangat mendalam maknanya bagi aku dalam blog satu blog ni...mungkin sebab aku juga pernah marasai pengalaman terindah hadiah dari Allah ini disaat dia mahu aku lebih dekat dengannya..

Kerana aku di sapa ujian.  Aku belajar mengenal kehidupan.  Bahawasanya hidup bukan sahaja berteman suka dan bahagia.  Tetapi di corak hampa dan air mata.  Maka, aku mengenal erti sabar dan belajar tersenyum walaupun perit terus menerus menagih hiba...

Ketika kehendakku tidak bisa di genggam.  Aku belajar menjadi insan matang.  Mensyukuri segala yang ditakdirkan.  Bukan merungut mencipta sesalan.  Kerana ku tahu bahawa segalanya tidak semudah apa yang ada dibayanganku.  Dunia hanya persinggahan yang sering menagih pengorbanan.

Ku sedari aku bukanlah sempurna.  Aku belajar menjadi diri aku apa adanya.  Tidakku cemburu menatap kelebihannya dia.  Kerana ku yakini bahawa.  Allah itu menjadikan kita tidak sama.  Dan kita sememangnya memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak serupa.
Kegagalan semalam telah menghancurkan impian.  Namun kerana kegagalan itulah aku mengikat suatu kesimpulan.  Bahawa tidak semua yang kita kehendakkan, akan berjaya berada di tangan.  Kegagalan itulah yang menjadi guru memberi pengajaran.

Menyedarkan aku bahawa walaupun kita merancang,  Jangan pernah lupa bahawa Allah juga merancang.  Dan perancangan Allah sememangnya jauh lebih hebat dan penuh hikmah kebaikan di setiap kejadian.
Kehilangan yang terjadi sememangnya menebuk lubang terdalam dihatiku.  Namun kerana kehilangan itu aku belajar sesuatu.  Bahawa setiap yang datang akan berlalu.  Tiada apa yang kekal di dunia ini kecuali Allah yang satu.  Lalu ku isikan pecahan-pecahan yang telah terjadi di hatiku.  Dengan cintanya Dia yang mengukuhkan kembali hatiku yang layu.

Dunia telah mengajarkan aku memilih untuk selalu berasa kecewa dan terluka, namun hanya dengan mengingati Allah sahajalah aku kembali menyedari dan redha.  Bahawa segalanya adalah ketentuanNya dan akhirnya akan belajar dari segenap peristiwa.


kredit: http://akuislam.com/blog/renungan/di-sebalik-liku-liku/#ixzz1llIzxpyc

MATA





Sahabat yang dirahmati Allah,

Allah SWT  mengurniakan semua manusia dengan dua mata. Mata adalah antara nikmat jasadiah yang terbesar, juga merupakan lubang dugaan yang paling hebat bagi insan. Dengan mata manusia mampu melihat, sekali gus menjana akalnya untuk berfikir pelbagai perkara.

Namun dengan mata juga manusia mudah bermaksiat dan akhirnya dari apa yang dilihat, akalnya berfikir pelbagai perkara yang merosakkan. Di samping dua mata yang Allah SWT berikan kepada manusia, terfikir pula 'dua mata' lagi manusia hakikatnya perlu wujudkan dalam diri mereka. Satu mata yang melihat masa belakang. Satu mata lagi melihat masa hadapan.




Mata melihat masa belakang : Muhasabah

Kelemahan manusia antaranya adalah membuat kesilapan yang sama berulang-ulang. Dengan mengulangi kesilapan yang sama, peningkatan manusia dalam hidupnya akan terganggu. Manusia yang baik, adalah manusia yang tidak mengulangi kesilapannya.

Sebab itu Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud : "Seorang mukmin itu tidak akan disengat kala pada lubang yang sama sebanyak dua kali."

Di sini perlunya kita, sebagai seorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menjalani kehidupan dengan baik, hidup dalam ketaatan, sekali gus menggapai redha-Nya, perlu mempunyai mata melihat masa belakang (bermuhasabah). Dengan mata ini, kita bermuhasabah dan merenung salah silap kita. Ramai manusia mengingati kelebihannya, kebaikannya dan kegemilangannya. Namun amat sedikit yang mengingati kekurangannya, kejahatannya dan kerendahannya.




Mata melihat masa hadapan : Merancang.

Satu lagi kelemahan manusia adalah tidak mempunyai perancangan. Hidupnya tidak dirancang, pengurusan dirinya tidak dirancang, keluarganya tidak dirancang, pekerjaannya tidak dirancang, tarbiah anak-anaknya tidak dirancang, pelajarannya tidak dirancang dan begitulah dalam kebanyakan sisi kehidupannya. Apakah perbezaan manusia yang merancang dengan yang tidak merancang?

Manusia yang merancang akan bersedia. Persediaan adalah pakej perancangan. Jangan samakan merancang dengan harapan, atau sembang kemas atau cakap omong kosong. Merancang bermakna mempnyai agenda dan strategi.

Apabila kita telah bersedia dan tidak mendapat apa yang dirancang, sekurang-kurangnya persediaan kita tadi punya makna pada medan lain. Contohnya, seorang lelaki merancang hendak berkahwin dengan si Fulanah binti Fulan. Maka lelaki itu mula mengumpul wang. Sampai pada masanya, si Fulanah tidak mahu berkahwin dengan lelaki tersebut. Apa yang dirancang oleh lelaki tersebut tidak berjaya. Dan duit itu boleh jadi bermakna di medan lain pula. Kegagalan satu perancangan, bukan penamat pada kehidupan. Begitulah juga dalam menjadi hamba Allah SWT.

Apakah perancangan kita? Di mana strategi kita hendak menggapai redha-Nya? Apakah jalan yang kita hendak ambil? Pernahkah kalian merancang? Allah SWT juga menggalakkan perancangan.

Firman Allah SWT maksudnya : "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah setiap kalian memerhatikan apa yang telah dia sediakan untuk hari esok..." (Surah Al-Hasyr, ayat 18)

Sahabat yang dimuliakan,

Muhasabah dan perancangan adalah amat penting. Tidak guna merancang sesuatu yang akan mengulangi kesilapan yang sama pada masa yang lalu. Bersama manusia, ada masa. Masa ini tidak akan dapat dikembalikan.

Bagi yang tidak bermuhasabah dan asyik mengulangi kesilapannya yang sama, maka dia telah kehilangan masa-masanya yang berharga. Bagi yang tidak merancang dan kehidupannya tunggang-langgang, dia juga telah kehilangan masa-masanya yang berharga. Inilah dia kerugian. Sebab itu Allah SWT berfirman : "Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian." (Surah Al-Asr, ayat 1-2)

Dan lebih merugikan, apabila kita tidak bermuhasabah, kita mengulangi kesilapan kita yang sama, dan mewariskan pula kesilapan itu pada anak-anak , pada keturunan kita, pada sahabat-sahabat  dan manusia di sekeliling kita. Lebih merugikan, kerana kita tidak merancang, keluarga kita rosak, pelajaran kita terbengkalai dan diri kita terhumban ke dalam kerosakan. Na'udzubillah.

Inilah kerugian yang nyata. "Katakanlah : Sesunggguhnya orang yang rugi itu adalah mereka yang merugikan diri mereka dan keluarga mereka di akhirat." (Surah Az-Zumar, ayat 15)

Bukankah dunia ini ladang akhirat? Di sini kita menanam, di sana kita menuai? Maka rugi di sini, maka di akhirat sana juga menanti hasilan kerugiannya. Bagaimana? Hendak mewujudkan dua mata ini dalam kehidupan? Atau memilih untuk tidak melakukan apa-apa peningkatan?

Sahabat yang dikasihi,

Marilah sama-sama kita perbaiki misi dan visi kita dalam kehidupan iaitu kita bermuhasabah diri di atas kelemahan dan memperbaikinya, begitu juga kita membuat perancangan untuk membina masa depan yang lebih baik semata-mata mencari keredhaan Allah SWT.

Tuesday, 5 February 2013

Salahkah?


Ada seorang hamba Allah perempuan ini. Dia adalah seorang bekas  pelajar di sekolah agama. Dia seorang yang solehah, menjaga auratnya dan memakai tudung labuh. Dia juga rajin mengikuti usrah.
Ditakdirkan Allah, dia dihantar belajar ke luar negara. Negara yang dia pergi, bukan pula negara orang Islam. Jurusannya bukan jurusan agama, tetapi  bakal lawyer. Maka, dia diangkat menjadi orang yang dipercayai oleh pelajar yang seangkatan dengannya.

Awal-awal, dia seorang yang komited dengan agama. Sering mengajak kawan-kawannya agar mengingati Allah, melaksanakan amanah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya.

Satu hari, dia jatuh cinta dengan seorang lelaki yang bukan Islam. Lama kelamaan, dia meninggalkan peribadinya yang lama. Walaupun masih bertudung labuh, dia tidak lagi menjaga batas pergaulan. Sampai satu tahap, dia pernah tidur di dalam kereta berdua-duaan dengan lelaki tadi.
Apakah pandangan anda?
Apa yang anda akan lakukan bila mengetahui perkara ini, bila melihat perkara ini, atau bila menjadi salah seorang daripada kawan-kawan kepada pelaku perkara ini?
Kisah rekaan , tetapi situasinya merata-rata...Betul kan?
Budak sekolah agama, lelaki ke, perempuan ke, dulu baik, tiba-tiba terjebak dengan sesuatu di luar lunas agama Allah. Perempuan tudung labuh, dulu jaga hubungan lelaki perempuan, tiba-tiba bercouple. Rakan kita yang nampak alim, tiba-tiba terdengar khabar dia berzina.
Ya, apa yang kita lakukan pada mereka-mereka ini?
Biasanya, mereka dihina. Disisihkan.
“Cis, menyampah gila aku. Dulu baik bukan main. Sekarang, mengalahkan aku buruknya. Aku pun tak pernah berdating dengan perempuan tau”
“Aku tak sangka betul, dulu bukan main solehah. Ingatkan aku itu ini. Sekarang tup-tup keluar dengan mamat tu. Tak senonoh la. Hipokrit”
“Tengoklah budak sekolah agama tu. Kata je belajar agama. Dulu bukan main lagi ceramah bagi dalil-dalil Al-Quran ingatkan orang. Sekarang, entah syurga dengan neraka pun tak kenal ke hapa”
Dan 1001 macam lagi yang biasanya akan terlepas dari mulut kita. Atau paling tidak, terdetik di dalam hati.
Kenapa? Kenapa kita senang bersikap demikian?
Akhirnya, mereka yang dahulunya ala-ala ustaz ustazah harapan agama ini disisihkan kerana kemaksiatan dan keingkaran yang mereka lakukan di hadapan mata kita har ini. Mereka dikutuk, dihina, dikeji, dihentam-hentam. Dan 99%, semuanya dilakukan di belakang mereka.
Siapa yang pernah pergi dan bersembang, berbincang, mendalami kenapa mereka berubah sedemikian rupa?
Tiada siapa menarik mereka
Kita selalu kata begini:
“Alah, pelajar agama, takkan tak tahu”
“Dia kan hafal 30 juzu’ Al-Quran. Takkan la tak reti-reti lagi”
Tetapi pada saya, ini satu prinsip yang membawa kepada sikap kita yang saya nyatakan di atas. Ya, secara tidak langsung, kita seakan-akan meletakkan taraf pelajar agama, orang yang mengikuti usrah, mereka yang bertudung labuh dan berkopiah ini di taraf MALAIKAT.
Sedangkan, mereka adalah MANUSIA.
Bila namanya manusia, pasti ada waktu kesilapannya. Dan kadangkala, silapnya boleh jadi lebih buruk dari kesilapan mereka yang tidak pernah pun sekolah agama. Tetapi inilah dia ujian Allah SWT.
Dengan prinsip kita di atas tadi, maka kita meninggalkannya. Kita tidak menegurnya. Kita nampak dia mula berubah ke arah kejahatan, kita menjauhinya kerana kita kata dia dah tahu, dia mesti dah faham serta sebagainya.
Kesilapan kita, adalah di sini.
Tiada siapa yang bergerak menarik mereka...Sebagaimana kamu, mereka juga begitu, saya juga begitu
Bila kita melakukan kesilapan, kita senang untuk orang faham kenapa kita boleh tersilap. Kita tertipu ke, kita terjerat ke, kita memang betul-betul tak tahu kemudian terbiasa dengan kesilapan itu ke, dan 1001 sebab lagi.
Jadi, bila orang hentam-hentam kita tanpa memahami, kita pastinya sakit hati.
Begitulah perasaannya mereka yang buat silap. Saya kira, kita sama dalam hal ini. Baik kamu, mereka, mahupun saya.
Saya sendiri, x suka manusia yang pakai hentam sahaja tanpa memahami. Kenal pun tidak, sudah menghentam macam dia tahu-tahu aja apa sebenarnya yang terjadi.
Jadi, apakah sikap kita?
Pernahkah kita mendekati ‘pendosa-pendosa yang beragama’ ini, atau kita sekadar menghina kesilapan, ketersasaran mereka dari jauh sahaja?
Mereka butuh manusia yang memahami
Kadangkala, ada something yang di luar jangkaan berlaku dalam hidup mereka ini. Sebab itu dari sebaik-baik manusia, boleh berubah sebegitu rupa. Kita yang biasa-biasa ni, melenting la. Kita terlupa bahawa dia rupanya manusia juga.
Tidak ramai yang mampu bersabar. Sedangkan, keadaan ini hanya boleh dihadapi oleh mereka yang tenang dan rasional.
Siapa yang pergi mendekati mereka, memahami mereka, cuba mencungkil apa sebenarnya permasalahan mereka, kenapa mereka sampai boleh tersasar sedemikian rupa. Siapa? Siapa yang berusaha sedemikian rupa?
“Aku tegur dah dia” Ya la, tegur macam mana? Tegur sekali pastu blah? Tegur 10 kali lepas tu penat?
Kadang-kadang, kita terlupa yang kita tak pernah pun bina ‘jambatan hati’ dengan mereka. Kita tak kenal mereka dalam erti kata sebenar. Kita dan dia tak pernah ada apa-apa perkongsian.
Bila terjadi perkara sebegini, kita lebih senang menghentam. Tegur sekali dua, lepas tu kata tak ada harapan. Ajak masuk usrah balik semula dua tiga kali, kemudian kata dia dah tak dapat hidayah.
Ini masalah kita.
Kemudian kita salahkan dia...Sebenarnya, kita pun sama. Berputus asa mengajak dia ke jalan Allah.
Bila dia berdosa, tak kira la dia budak agama ke, ulama sekalipun, sepatutnya kita layani dia dengan baik. Tunjukkan dia jalan yang betul.
Sejak bila seseorang itu bila dia jadi pelajar sekolah agama, dia ikut usrah, dia pernah berdakwah ajak orang buat baik, dia keluaran Al-Azhar ke hapa ke, bila jadi maksum?
Sejak bila pula, manusia-manusia ni, bila buat dosa, dibolehkan kita membiarkan mereka?
Bukankah layanannya tetap sama dengan orang yang tidak pernah belajar agama, tidak pernah ikut usrah, tidak pernah berdakwah yang buat dosa?
Yakni tegur, dan pimpin mereka.
Pimpin ya. Pimpin. Fahami maksud perkataan pimpin.
Mereka lebih baik. Kami bukan pelajar agama
Satu lagi kesilapan kita, kita suka kata: “Mereka budak agama. Aku bukan budak agama. Mereka pakai tudung labuh. Aku tudung tiga segi aja”
Dan akhirnya, kita tinggalkan mereka.
Ini kesilapan yang paling besar. Siapa la ajar penegur itu kena sempurna. Kita ni, menegur sambil memperbaiki diri. Kita budak agama ke, bukan budak agama ke, kalau sesuatu kita rasa patut tegur, walaupun teguran kita tu ala-ala menghentam diri sendiri, kena tegurlah juga.
Apa  kes main kutuk-kutuk belakang aja?
“Dia kan budak agama, dia mesti faham”
Kalau macam itu, budak agama mestilah malaikat semuanya. Tak akan ada buat salah.
Ala, macam kita belajar la. Faham-faham pun, bukan dapat 100% dalam periksa. Betulkan?
Ada ke yang skor semua mata pelajaran dia 100%?
Kalau ada pun, sekelompok kecil aja.
So, macam mana sekarang?
Kena tegur la. Bergerak mendekati mereka ini. Fahami masalah mereka ini. Mana tahu, hati mereka meronta-ronta untuk kamu membantu mereka sebenarnya.
Penutup: Kamu berdosa kalau sekadar membiarkan
Ya, kamu berdosa. Sebab mencegah kemungkaran itu adalah wajib.
“Saya mencegah dengan hati” Ha ha.. ini alasan kamu nak bagi kan?
Rasulullah SAW bersabda: “Sekiranya kamu tidak mampu”
Jadi, kalau ada kudrat, ada suara lagi, ada tenaga lagi, itu tandanya ‘mampu’ itu masih ada pada kamu. Maka, kamu berdosa kalau tidak menegurnya. Teknologi hari ini lagi la ada macam-macam. E-mail ada, facebook ada, Yahoo Messenger ada. Kalau nak pakai gaya zaman P.Ramlee pun boleh – tulis surat.
Kemudian, tegur bukan sekali.
Berkali-kali. Sampaila terjadi salah satu dari empat perkara. Apa dia?
Kamu mati.
Dia mati.
Matahari terbit dari barat.
Dia berubah.
Selagi tak berlaku empat perkara ini, adalah tidak patut kita berputus asa dalam memberikan teguran. Kalau tak makan dengan plan A, kita bagi dia plan B. Kalau plan B dia tak boleh jugak, kita bagi dia plan C. Sampai la plan Z. Kalau tak boleh jugak, kita bagi dia plan AZ pula. Kalau tak boleh lagi, bagi plan BZ dan begitulah seterusnya. Sampai salah satu dari empat perkara tadi terjadi pada kita.
“Tapi dia budak agama” Kamu ulang lagi benda ni.
Sudah-sudah. “Dia manusia juga”.
Ayuh, jangan cakap belakang sahaja.
Rapati dia, berikan nasihat. Laksanakan tanggungjawab kita sebagai seseorang yang faham bahawa dia telah tersasar daripada Allah SWT.
Sesungguhnya, menebarkan kebaikan itu adalah tanggungjawab orang yang beriman.
Tidak kira, kita budak sekolah agama, atau bukan.
PESANAN BUAT DRI INI SERTA SHBAT LAIN..via GENTA RASA..